Al-Khawarizmi

Standar

Gambar

MOHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI  Sangat sedikit orang yang mengetahui riwayat hidup al-Khawarizmi. Dia lahir sebelum tahun 800 M dan meninggal setelah tahun 847 M. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa. Dia dikenal dengan sebutan al-Khawarizmi karena berasal dari Khawarizm, sebuah daerah di timur laut Kaspia.

Al-Khawarizmi diperkirakan hidup di pinggiran Baghdad pada masa Khalifah al-Ma’mun (813-833 M) zaman dinasti Abbasiyyah. Khalifah al-Ma’mun menjadi sahabat karibnya. Dia menjadikan al-Khawarizmi sebagai anggota Bait al-Khikmah (Wisma Kearifan) di Baghdad . Sebuah lembaga penelitian ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid.

Bait al-Khikmah memiliki berbagai keunggulan yang masyhur di dunia Islam. Kesuksesan al-Khawarizmi dalam bidang Astronomi dan Aljabar didedikasikan kepada Khalifah al-Ma’mun. Sementara Khalifah al-Ma’mun sendiri banyak memberikan penghargaan kepada al-Khawarizmi.

Dengan Ilmu Astronomi, al-Khawarizmi mengungkap ramalan tentang waktu Nabi Muhammad SAW dilahirkan secara cermat. Dia juga tercatat sebagai salah seorang astronom yang ikut membuat peta dunia atas permintaan Khalifah al-Ma’mun. Peta dunia tersebut kemudian dikenal dengan nama Peta Ptolemy.

Karya intelektual al-Khawarizmi tentang Aritmetika dan Aljabar menjadi sumber acuan Ilmu Matematika di belahan Barat dan Timur. Penulis sejarah Matematika kenamaan, George Sarton, mengungkapkan bahwa al-Khawarizmi adalah salah seorang Ilmuwan Muslim terbesar dan terbaik pada masanya. Sarton menggolongkan bahwa periode antara Abad Keempat sampai Kelima sebagai Zaman al-Khawarizmi, karena dia adalah Ahli Matematika terbesar pada masanya. Smith dan Karpinski menggambarkan pribadi al-Khawarizmi sebagai tokoh terbesar pada masa keemasan Baghdad, setelah seorang penulis Muslim menggabungkan Ilmu Matematika klasik Barat dan Timur, mengklasifikasikan dan akhirnya membangkitkan kesadaran daratan Eropa.

Pengaruh lain yang berkaitan erat dengan Ilmu Matematika adalah suku kata algoritm yang dinotasikan sebagai prosedur baku dalam menghitung sesuatu. Kata ini berasal dari perubahan versi al-Khawarizmi ke dalam versi Latin, algorismi, algorism dan akhirnya menjadi algorithm.

Tulisannya tentang aritmetika berbahasa Arab pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin memainkan peran penting dalam perkembangan bilangan Arab dan sistem bilangan yang diterapkan saat ini. Meskipun bukan murni sebagai penemunya, tahapan yang dilakukan al-Khawarizmi merupakan format pengembangan sistem bilangan kita saat ini. Hal ini menjelaskan bahwa penggunaan sistem bilangan Arab dan notasi penulisan basis sepuluh, yang diperkenalkan oleh al-Khawarizmi, dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi perhitungan di Abad Pertengahan bagi bangsa Eropa.

Setelah al-Khawarizmi meninggal, keberadaan karyanya beralih kepada komunitas Islam. Yaitu, bagaimana cara menjabarkan bilangan dalam sebuah metode perhitungan, termasuk dalam bilangan pecahan; suatu penghitungan Aljabar yang merupakan warisan untuk menyelesaikan persoalan perhitungan dan rumusan yang lebih akurat dari yang pernah ada sebelumnya.

Di dunia Barat, Ilmu Matematika lebih banyak dipengaruhi oleh karya al-Khawarizmi dibanding karya para penulis pada Abad Pertengahan. Masyarakat modern saat ini berhutang budi kepada seorang al-Khawarizmi dalam hal penggunaan bilangan Arab. Notasi penempatan bilangan dengan basis 10, penggunaan bilangan irrasional dan diperkenalkannya konsep Aljabar modern membuatnya layak menjadi figur penting dalam bidang Matematika dan revolusi perhitungan di Abad Pertengahan di daratan Eropa. Dengan penyatuan Matematika Yunani, Hindu dan mungkin Babilonia.

Penemu Bilangan Nol

Kita pasti sudah sering mendengar istilah algoritma. Tapi, tahukah siapa penemunya? Bisa jadi kita menduga orang tersebut dari dunia Barat. Padahal, ia adalah seorang ilmuwan muslim yang bernama Al Khawarizmi.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, algoritma berarti prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas. Nama itu berasal dari nama julukan al-Khawarizmi. Karya Aljabarnya yang paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan). Dalam buku itu diuraikan pengertian-pengertian geometris. Ia juga menyumbangkan teorema segitiga sama kaki yang tepat, perhitungan tinggi serta luas segitiga, dan luas jajaran genjang serta lingkaran. Dengan demikian, dalam beberapa hal al-Khawarizmi telah membuat aljabar menjadi ilmu eksak.

Buku itu diterjemahkan di London pada 1831 oleh F. Rosen, seorang matematikawan Inggris. Kemudian diedit ke dalam bahasa Arab oleh Ali Mustafa Musyarrafa dan Muhammad Mursi Ahmad, ahli matematika Mesir, pada 1939. Sebagian dari karya al-Khawarizmi itu pada abad ke-12 juga diterjemahkan oleh Robert, matematikawan dari Chester, Inggris, dengan judul Liber Algebras et Al-mucabola (Buku Aljabar dan Perbandingan), yang kemudian diedit oleh L.C. Karpinski, seorang matematikawan dari New York, Amerika Serikat. Gerard dari Cremona (1114–1187) seorang matematikawan Italia, membuat versi kedua dari buku Liber Algebras dengan judul De Jebra et Almucabola (Aljabar dan Perbandingan). Buku versi Gerard ini lebih baik dan bahkan mengungguli buku F. Rozen.

Dalam bukunya, al-Khawarizmi memperkenalkan kepada dunia ilmu pengetahuan angka 0 (nol) yang dalam bahasa Arab disebut sifr. Sebelum al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan mempergunakan abakus, semacam daftar yang menunjukkan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya, untuk menjaga agar setiap angka tidak saling tertukar dari tempat yang telah ditentukan dalam hitungan.

Akan tetapi, hitungan seperti itu tidak mendapat sambutan dari kalangan ilmuwan Barat ketika itu, dan mereka lebih tertarik untuk mempergunakan raqam al-binji (daftar angka Arab, termasuk angka nol), hasil penemuan al-Khawarizmi. Dengan demikian, angka nol baru dikenal dan dipergunakan orang Barat sekitar 250 tahun setelah ditemukan al-Khawarizmi. Dari beberapa bukunya, al-Khawarizmi mewariskan beberapa istilah matematika yang masih banyak dipergunakan hingga kini. Seperti sinus, kosinus, tangen dan kotangen.

Karya-karya al-Khawarizmi di bidang matematika sebenarnya banyak mengacu pada tulisan mengenai aljabar yang disusun oleh Diophantus (250 SM) dari Yunani. Namun, dalam meneliti buku-buku aljabar tersebut, al-Khawarizmi menemukan beberapa kesalahan dan permasalahan yang masih kabur. Kesalahan dan permasalahan itu diperbaiki, dijelaskan, dan dikembangkan oleh al-Khawarizmi dalam karya-karya aljabarnya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila ia dijuluki ”Bapak Aljabar.”

Bahkan, menurut Gandz, matematikawan Barat dalam bukunya The Source of al-Khawarizmi’s Algebra, al-Khawarizmi lebih berhak mendapat julukan “Bapak Aljabar” dibandingkan dengan Diophantus, karena dialah orang pertama yang mengajarkan aljabar dalam bentuk elementer serta menerapkannya dalam hal-hal yang berkaitan dengannya.

Di bidang ilmu ukur, al-Khawarizmi juga dikenal sebagai peletak rumus ilmu ukur dan penyusun daftar logaritma serta hitungan desimal. Namun, beberapa sarjana matematika Barat, seperti John Napier (1550–1617) dan Simon Stevin (1548–1620), menganggap penemuan itu merupakan hasil pemikiran mereka.

Selain matematika, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai astronom. Di bawah Khalifah Ma’mun, sebuah tim astronom yang dipimpinnya berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Penelitian itu dilakukan di Sanjar dan Palmyra. Hasilnya hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran garis tengah bumi yang sebenarnya. Sebuah perhitungan luar biasa yang dapat dilakukan pada saat itu. Al-Khawarizmi juga menyusun buku tentang penghitungan waktu berdasarkan bayang-bayang matahari.

Buku astronominya yang mahsyur adalah Kitab Surah al-Ard (Buku Gambaran Bumi). Buku itu memuat daftar koordinat beberapa kota penting dan ciri-ciri geografisnya. Kitab itu secara tidak langsung mengacu pada buku Geography yang disusun oleh Claudius Ptolomaeus (100–178), ilmuwan Yunani. Namun beberapa kesalahan dalam buku tersebut dikoreksi dan dibetulkan oleh al-Khawarizmi dalam bukunya Zij as-Sindhind sebelum ia menyusun Kitab Surah al-Ard.

Selain ahli di bidang matematika, astronomi, dan geografi, Al-Khawarizmi juga seorang ahli seni musik. Dalam salah satu buku matematikanya, ia menuliskan pula teori seni musik. Pengaruh buku itu sampai ke Eropa dan dianggap sebagai perkenalan musik Arab ke dunia Latin. Dengan meninggalkan karya-karya besarnya sebagai ilmuwan terkemuka dan terbesar pada zamannya, Al-Khawarizmi meninggal pada 262 H/846 M di Baghdad.

Setelah al-Khawarizmi meninggal, keberadaan karyanya beralih kepada komunitas Islam. Yaitu, bagaimana cara menjabarkan bilangan dalam sebuah metode perhitungan, termasuk dalam bilangan pecahan; suatu penghitungan Aljabar yang merupakan warisan untuk menyelesaikan persoalan perhitungan dan rumusan yang lebih akurat dari yang pernah ada sebelumnya.

Di dunia Barat, Ilmu Matematika lebih banyak dipengaruhi oleh karya al-Khawarizmi dibanding karya para penulis pada Abad Pertengahan. Masyarakat modern saat ini berutang budi kepada al-Khawarizmi dalam hal penggunaan bilangan Arab. Notasi penempatan bilangan dengan basis 10, penggunaan bilangan irasional dan diperkenalkannya konsep Aljabar modern, membuatnya layak menjadi figur penting dalam bidang Matematika dan revolusi perhitungan di Abad Pertengahan di daratan Eropa. Dengan penyatuan Matematika Yunani, Hindu dan mungkin Babilonia, teks Aljabar merupakan salah satu karya Islam di dunia Internasional.

Diambil dari: http://azzein.wordpress.com/2011/10/19/biografi-al-khawarizm-algorizm-penemu-bilangan-nol/

Abad Kesetanan atau Kemalaikatan Manusia

Standar

Muslimin Magenda

Adalah kita sebagai manusia, hidup di alam yang teramat sangat luas, Bumi. Beberapa pilihan hidup yang mungkin patut kita jadikan tuntunan berhidup melewati gerak social dan gerak alam fana ini. Menjadi setan atau menjadi malaikat? Pilihan terakhir ada pada diri kita masing-masing.. Ada banyak dari kita, manusia memilih sebuah jalan hidup atas kehendak sementara, melepaskan diri dari kedalaman analisis, pada sisi lain, ada banyak juga manusia yang mampu mengendalikan kehendaknya setelah menggali beberapa aspek penting yang mungkin bisa menjadi aral dan dosa dikemudian hari.

Yah, fenomena bukan sekedar yang gerak oleh fisik, tapi lebih dari itu, pikiran, rasa, kehendak, daya adalah bagian-bagian lain yang sangat berpengaruh kuat. Kita mungkin akan menertawakan keadaan diri, orang lain, kelompok, binatang, setan, atau bahkan malaikat karena tidak secerdas seorang individu sendiri. Bukti, seorang pencuri, pelacur, homo, banci, koruptor, hakim aneh, polisi bejat, pembunuh pemerkosa, dan lain-lain telah kita saksikan bersama keberadaannya di tengah-tengah kita.

Bukankah manusia diciptakan dari tanah seperti apa yang dicetak dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagai kitab suci ummat Islam? Tapi justeru dengan adanya sikap-sikap yang tidak seperti tanah itu malah menjadikan diri kita bagai tercipta dari berbagai bahan yang dicampur-aduk tanpa batas-batas yang semestinya. Tanah, jika mendapati air comberan, maka bau menyengatnya akan merepresentasikan dirinya. Maka orang-orang akan memanggilnya comberan, atau lumpur yang patut diasingkan lalu tidak layak lagi mendapat sebutan tanah asli. Atau, jika tanah ditanami tumbuhan apa saja kemungkinan besar akan mendapatkan keberterimaan besar-besaran, bahkan tanah akan mengorbankan dirinya untuk diserap oleh tumbuhan-tumbuhan lalu menjadi akar pohon, atau umbi-umbian.

Kehancuran tanah adalah kehancuran manusia, maka apa-apa yang menjadikan tanaman itu rusak dan tak layak pakai tidak lain datangnya dari manusia yang pada dasarnya adalah anak dari tanah itu sendiri. Manusia bahkan sangat rela, bahagia menghancurkan keadaan tanah dengan berbagai bentuk aksi. Misalnya, pembakaran hutan, penambangan alias pengerukan bumi, pembuangan limbah kimia, dan lain sebagainya. Berikutnya, kepada apa, dan yang manakah sesuatu yang layak untuk menggambarkan identitas manusia itu sendiri?
Telusur demi telusur, ternyata masih ada banyak manusia yang juga bergerak melawan motivasi manusia lainnya dalam kerangka perlakuan terhadap tanah itu. Manusia yang itu pastilah mereka yang sungguh menghargai tanah dengan berbagaimacam cara dan tindakan. Mereka senang bercocok tanam, mereka senang menyirami tanah-tanah yang sedang kekeringan meskipun itu hanya sebatas di halaman rumah tempat tinggalnya sendiri. Alhasil, tanah pun berbalik memberi respon balik yang juga baik untuk manusia itu sendiri.

Perubahan
Kesadaran terpenting yang menurut saya dapat dijadikan acuan berpendapat terhadapa eksistensi seorang anak manusia adalah dengan dua pilihan atau kecenderungan. Yang pertama, apakah manusia

Aku

Belanja Kata-kata

Nabi Muhammad SAW

Standar

Pastilah manusia ini yang paling baik di dunia ini. Dalam Islam, Muhammad dikatakan sebagai seorang nabi penyempurna semua ajaran agama yang disampaikan oleh para Rasul sebelumnya. Seluruh ajarannya tidak dilakukan dalam waktu singkat. Ia menghabiskan waktu untuk memberikan pencerahan selama 40 tahun, tidak hanya menyampaikan layaknya para guru yang hidup di Zaman ini. Tapi beliau selalu memberikan contoh secara langsung melalui sikap dan perbuatannya. Oleh karenanya, filsafat yang diajarkan oleh Muhammad sangat jauh berbeda dengan filsafat yang dibangun oleh para filsuf-filsuf lainnya. Muhammad mampu bertahan dengan cercaan, ketidak percayaan, mendapat dukungan yang terus-menerus massive. Beda dengan para filosof lainnya, Muhammad selalu mengatakan tentang sesuatu yang sudah kejadian pasti akan terjadi pada saat itu juga atau bahkan untuk ribuan bahkan jutaan tahun yang akan datang.

Muhammad pernah mengatakan, ….jika dalam sebuah kelompok atau Negara mengalami kerusakan, maka pemimpin merekalah yang paling bertanggungjawab karena dia yang paling bersalah… dan itu benar adanya, setiap kebijakan yang melenceng dari para pemimpin suatu Negara, maka dampaknya pasti sangat dirasakan oleh rakyatnya.

Beliau juga tidak pernah mau menunjukkan kemarahan dalam situasi apapun, namun kemarahan justeru ditunjukkan oleh para sahabatnya jika ada saja segilintir orang yang menghina dirinya. Bijak dan cinta dibangun oleh Nabi ini dengan struktur yang tidak dapat diruntuhkan. Ia membangun sikap bijak dengan sempurna dan beberapa pengikutnya mengikuti jejak perilaku filsafat beliau. Dalam perang pun Muhammad selalu memberikan penekanan bahwa perang bukanlah berprinsip dendam atau kehendak menghancurkan musuh secara fisik, tetapi lebih pada esensi yakni agar terjadi keselarasan pemahaman tentang hidup di dunia ini.

Muhammad dapat berlaku sebagai saudara, sahabat, ibu, ayah, kakek, pemimpin, imam, tokoh panutan dalam pendidikan, figur penting dalam politik, penasehat sekaligus prajurit dalam setiap peperangan. Figur ini jelas tidak dapat dibandingkan dengan figur manapun. Adapun terdapat beberapa filsuf yang memiliki kesamaan dengan beliau, maka itu hanya sekelumit kesamaan kecil. Filsafat tertinggi sudah sampai batasnya, dan di sinilah pertanyaan-pertanyaan terjawab tuntas. Seorang filsuf, ilmuwan, sekaligus agamawan yang mampu mensinergikan titik balik kehadiran ketiga dasar kehidupan manusiawi. Ada baiknya kita semua lebih memperdalam pengetahuan tentang tokoh yang satu ini, karena menurut penulis dia bukan hanya penyampai wahyu dari Tuhan menuju Islam, tetapi dia sebagai makhluk yang disebut manusia juga secara nyata menunjukkan sikap dan tatanan kehidupan yang utuh tanpa ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan.

Teologi Islam

Standar

Muslimin Magenda

Bahwasannya apa-apa yang sedang kita alami di dunia ini adalah sebuah bentuk keberadaan, maka segala apa yang kita kehendaki pun adalah bagian dari sebuah keberadaan yang sampai mati akan terus tumbuh dan berkembang.

ISLAM dalam kemajemukan sebuah Negara adalah bagus adanya. Jika tidak, maka tidak ada moral, etika, atau mungkin apa yang disebut-sebut sebagai sebuah kebaikan tingkat tinggi oleh sebagian besar manusia. Tapi ISLAM, jika kita pandang dari salah satu sudut maka akan mengalami keterpurukan yang mendalam. Contoh, saat ini ada bentuk-bentuk cara berfikir yang diejawantahkan dalam sebuah konteks yang benar-benar keras, tapi ada banyak juga yang hanya memilih jalan skeptic atau mungkin apatis atas itu. Manakala Islam terlihat begitu rapuh dan menakutkan sebagian orang dan sebagian yang lain seolah mendukung dengan cara berdiam diri, maka kebingungan interpretasi akan semakin menjadi-jadi.

Di Negara kita yang tercinta ini, Indonesia, ISLAM mulai mengalami kegamangan cara, dijadikan lelucon bagi para pelawak, lebih-lebih dijadikan alat untuk melakukan sebuah tindakan-tindakan tanpa batas. Lelucon yang saya maksud di sini adalah ketika media dengan sengaja menampilkan program yang berbau Islam mereka sama sekali tidak perduli dengan apa dan siapa yang melakoni simbol-simbol Islam itu. Misalnya, seorang artis yang mengenakan jilbab dan berlaku baik atau protagonist dengan bagus memainkan acting yang berbau dakwah nilai melaui sebuah tindakan-tindakan yang seolah-olah dia adalah seorang tokoh yang memang betul-betul melambangkan Islam. Sadarkah kita sebagai penonton bahwa apa yang dilakoni oleh para artis tersebut hanya sebuah kamuflase yang sangat berbau ekstase untuk para audiens. Begitu pula sang actor.
Di sini kita tidak mengklaim bahwa semua mereka telah bertingkah kamusflase di dalam kehidupan maya. Tapi ada baiknya ketika berhadapan dengan layar televisi orang Indonesia harus mulai mampu memberikan sebuah kritikan tajam dan pedas. Wajar saja kalau paham realism semakin menentang aliran eksistensialisme. Sebab, sejalan dengan itu, Islam telah mengalami kemerosotan pandangan dan lalu melahirkan sebuah stipulasi-stipulasi miring yang pada akhirnya menjatuhkan kredibilitas Islam itu sendiri.

Kedua, selain memperhatikan yang itu, keragaman niat sang sutradara pun harus kita pahami. Ada beberapa sutradara yang sengaja memanggil artis-artis yang suka seronoh untuk tampil dalam program yang berbau religious. Alasannya untuk memberikan mereka kebiasaan-kebiasaan dalam berislam. Nah, bagaimana kita menyikapi yang ini? Tentu saja kita tidak bisa seudzon terhadap apa-apa yang menjadi niat mereka, tapi juga kita harus melihat kehendak lain dibalik itu. Ada beberapa yang memang berniat seperti itu, meskipun mereka sendiri selalu memilih-milih siapa yang memang mempunyai daya tawar tinggi di hadapan public dalam ranah bisnis. Ini yang kemudian menjadi masalah, alhasil kecurigaan-kecurigaan akan tetap muncul.
Kita sudahi dulu tentang artis dan segala bentuk terjemahan tehadap mereka. Mudah-mudahan ini tiidak termasuk sebuah gunjingan, dan saya rasa ini bukan sebuah gunjingan.

Kita masuk pada ranah social. Pola pikir kurang analitik menjadikan banyak gerakan-gerakan beragama tidak ubahnya seperti orang yang sedang lapar, lalu pada saat lapar itulah mereka dengan susah payah mencari sesuap nasi. Contoh di bulan Ramadhan, sepertinya ada banyak diantara kita (ummat Islam) yang betul-betul dengan semangat tulus menyambutnya setelah beberapa bentuk kekerasan terjadi di mana-mana, kehilangan moral berlebih-lebihan, kehilangan pola interaksi satu-sama-lain. Dan kesenjangan-kesenjangan hidup lainnya. Pada hal lain, kita juga dapat menganalisis bahwa, kalau diibaratkan dalam Kristen, Ramadhan bahkan mungkin hampir mirip dengan tata cara pengampunan dosa yang dibayar di gereja oleh ummat Kristiani. Betapa tidak, akibat mendengar ekstase pengampunan dosa melalui bulan Ramadhan beberapa orang pun ramai-ramai mendatangi masjid-masjid. Bahkan, sholat taraweh yang pada hakikatnya adalah sholat sunnah mengalahkan sholat wajib lainnya, subuh, dzuhur, ashar, magrib dan isya. Pertanyaan kemudian, maukah agama Islam mendapatkan stereotip seperti itu oleh orang-orang yang memang tidak senang dengan Islam? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, yang jelas sebagai orang yang menganut ajaran Islam, saya tidak sudi ada orang yang berkata seperti itu kepada agama saya…

Kita tahu, bahwa Karl Marx dalam thesis-nya “religion is only the opium” itu lahir akibat dia melihat kejadian-kejadian di gereja, bukan hanya karena gereja menentang hadirnya Ilmu tapi ada perilaku-perilaku agama yang memang tidak memberikan sebuah cerminan bahwa agama adalah turunnya dari Tuhan, tapi justeru dari manusia itu sendiri. Sebut saja pembayaran uang penebusan dosa dengan mata uang buatan manusia. Jelas saja orang sekelas Marx menyebutkan bahwa agama tidak lebih dari sekedar candu bagi pemeluknya. Bagaimana bisa uang buatan manusia dapat menebus dosa-dosa yang dilakukan kepada Tuhan, sementara Tuhan sama sekali tidak pernah membutuhkan uang.

Jika dalam Islam ada bulan Ramadhan, harusnya kita ambil sebuah jawaban kunci secara ilmiah dan secara teologis. Terjemahan-terjemahan yang memunculkan bahwa Iblis, syaitan, dan Jin terbelenggu selama ramadhan berjalan. Ini adalah ajaran Islam, dalam alasan yang paling masuk akal, pertama, Tuhan bisa saja melakukan itu dengan otoritasnya agar pelaksanaan ibadah-ibadah yang memang dikhususkan itu tidak terganggu sehingga menuai kekhusu’an. Kedua, sebuah sifat yang dimiliki oleh Tuhan adalah maha Pengampun, maka diberikan momen untuk ummatnya untuk melatih diri agar lebih baik di kemudian hari, lalu agar dapat merasakan nikmatnya beribadah kepada Dzat yang memiliki seluruh alam ini. Ketiga, aturan-aturan dalam menjalankan Ramadhan juga telah ditetapkan oleh Tuhan, bukan dengan ketetapan manusia itu sendiri.
Saat ini, ada banyak orangtua yang sampai-sampai memukuli anaknya karena tidak ikut melaksanakan sholat taraweh di masjid. Entah apa alasannya, mungkin saja orangtua merasa malu kepada tetangga-tetangga, atau mungkin karena termakan gejala pengampunan dosa tadi. Jika alasannya memang seperti itu, maka ada baiknya kita kembali berhati-hati dalam beribadah, karena hal itu bukan tidak mungkin menjadi sia-sia semata.

Memasuki tahapan kejadian-kejadian lain, maaf saya di sini bukan membicarakan kitab Injil (ttg kejadian), tapi sebuah telaah tentang kejadian-kejadian yang merepresentasikan agama di dalamnya, yakni Islam dan orang-orangnya.
Sebuah seminar yang membicarakan deradikalisasi pemikiran beragama di Surakarta beberapa waktu lalu, beberapa ulama dihadirkan untuk menyaksikan sekaligus memberi tanggapan di dalamnya. Narasumber, MUI, Pakar hukum FPI, dan salah satu pimpinan Badan Nasional Penanggulangan Terosrisme Indonesia, serta satu lagi dari UMS sendiri.
Ketika mereka masuk dalam pembahasan penanggulangan terorisme atau bahasa halusnya deradikalisasi pemikiran dan perilaku beragama, keadaan tiba-tiba menjadi panas dalam artian panas emosi kemanusiaan.

Seorang ulama berkata, kira-kira sepertinya kutipan tidak langsungnya, tidaklah lazim seorang manusia melontarkan ayat-ayat, atau hadis-hadis tentang agama jika tidak dalam kedudukannya yang pas. Kalau hanya seperti itu kemampuan beragama, jangan sekali-kali melontarkan dalil-dalil tentang agama, ini yang pertama. Kedua, jangan lagi kita bernggapan bahwa ada radikalisasi yang dilakukan oleh ummat Islam. Ketiga, BNPT lebih baik bubar saja kalau memang mendapatkan anggaran dari luar negeri.
Analisa, ketika ada ulama yang mengatakan atau memberi teguran kepada seorang narasumber dengan etika seperti itu, bahkan mendikte orang agar tidak melontarkan ayat-ayat atau dalil-dalil tentang kebaikan Islam, maka dimana kedamaian Islam, dimana letak kebijaksanaan Islam di dalamnya. Hemat saya seperti ini, Islam tidak hadir hanya untuk mereka yang berlabel atau berpenampilan tertentu, Islam tidak penah menyuruh orang untuk mendikte orang, apalagi mematahkan semangat orang untuk menyerukan ayat-ayat tentang kebaikan kepada yang lain. Islam juga adalah agama yang benar-benar bijak. Tapi kalau ulama saja sudah bertindak seperti itu, maka benar saja ada radikalisasi pemikiran dalam Islam itu sendiri.

Kedua, sunnatullah kalau kehidupan itu ada sebuah kekerasan, dimana ada kehajatan, pasti ada kebaikan, maka apapun alasannya, tidak ada yang bisa menampik bahwa dalam Islam pun ada yang namanya kekerasan bahkan belajar berperang adalah wajib dalam ajaran Islam. Tapi lagi-lagi ini menjadi salah asuh, dan kebetulah ada banyak kejadian-kejadian kekerasan yang menampilkan nama-nama Islami di dalamnya, lalu berpakaian yang lumrah dikenal sebagai pakaian orang Islam. Maka, apakah ia BNPT dibubarkan begitu saja, tanpa ada solusi yang jelas dari mereka yang hendak membubarkannya?

Ini pertanda bahwa, kehancuran Islam ada pada ummatnya sendiri yang hanya memandang ibadah itu pada tahapan-tahapan tertentu saja, ada banyak mereka yang menjadi ulama tidak mau tahu dengan kajian-kajian ilmian dan teori-teori social. Kita ambil salah satu contoh kasus, suatu ketika Nabi Muhammad memilih seorang yahudi untuk memimpin strategi perang melawan yahudi lainnya. Hal demikian dilakukan karena Muhammad tahu bahwa ilmu adalah kekuatan yang sangat kuat, bahkan dengan satu orang yang berilmu saja, dalam sebuah komunitas, maka jalan terang dari yang gelap akan diperoleh dengan gampang.

Di wilayah pendidikan, ada ratusan perguruan tinggi Islam di negeri ini, ada banyak organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia ini, termasuk Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Tapi ada banyak kejadian-kejadian aneh yang membunuh karakter Islam itu sendiri. Ini benar-benar mencengangkan sekaligus memberi penderitaan, lalu menciderai hakikat Islam sebagai rahmatan lil’alamin itu sendiri. Kita pernah mendengar atau menonton berita, atau mengalami langsung adanya koruptor di wilayah Perguruan Tinggi Islam, slogan-slogan “Anjing Hu’akbar”, bentrokan-bentrokan antar santri, pencabulan, pemerkosaan oleh mereka-mereka yang ada dalam lingkaran lembaga Islam. Menyedihkan, air mata mengering, lidah menjadi kaku, benar-benar ini melumpuhkan gerakan. Bertanya lagi, kira-kira dimana letak black box yang harus kita kaji secara mendalam tentang kejadian-kejadian seperti ini?

Menurut saya, pertama, ini akibat kekuasaan ekonomi yang menggiurkan dunia yang menjelma menjadi budaya yang menarik dan betul-betul nikmat, dan memang pada saat ini tidak dapat dihindari. Akibat dari itu, sekolah-sekolah Islam menjadi ajang komersialisasi, manakala sekolah tersebut mendapatkan banyak peminat, maka nilai jual akan semakin tinggi. Alhasil tolak ukur kualitas adalah tergantung pada minat dan nilai tawar mata uang yang tinggi, yang kemudian secara perlahan mengikis akar-akar utama dihadirkannya model pendidikan itu sendiri.

Kedua, tidak adanya hukum yang ideal yang khusus mengatur perjalanan pendidikan secara baik dan benar. Dikemudian hari muncul UU tentang HAM, tanpa mengacu pada teori kausalitas dan metode genealogi yang benar. Alhasil, hal demikian semakin menjadikan pendidikan tidak berkarakter, karena HAM yang mengatur tindakan guru dan murid di Negara Indonesia ini menurut saya akan bagus jika diterapkan pada saat tingkat pendidikan sudah benar-benar professional. Manakala latar belakang social Negara ini masih menyisakan banyak variable yang belum terukur, maka UU HAM bahkan BHP itu adalah sangat premature adanya.

Ketiga, etika tenaga pendidik tidak sejalan dengan apa-apa yang seharusnya menjadi kewajibannya yakni, memiliki kemampuan ilmu yang memadai, kedua, tidak asal menjadi pendidik hanya dengan label atau symbol, pola recruitment tidak jelas bahkan sangat membodohi, melakukan penyuapan-penyuapan, terlalu banyak tenaga pendidik yang tidak mau tau dengan keadaan social lainnya alias hanya mementingkan diri sendiri, dan kebodohan serta ketololan lainnya.

Mengutip kalimat seorang dosen saya, Prof Kumaidi, dosa yang paling banyak di negeri ini bisa dikatakan telah dikoleksi oleh tenaga pendidik yang tidak tahu, dan tidak mau tahu tentang apa-apa kewajibannya. Sebaliknya mereka lebih mencari-cari apa-apa saja yang menyangkut hak-haknya saja. Kalau sudah begini adanya, apakah benar bahwa sebagian guru-guru di negeri ini senang dikatakan bodoh dan tolol? Wallahu’alam..

Tak usah lagi kita memperdebatkan keilmiahan Islam, tak usah lagi kita merasakan menderita seolah-olah akibat aturan-aturan agama. Sebab, hal itu hanya mendatangkan ketololan,.. Demikian semoga ada manfaatnya..

Formsurakartantb10.wordpress.com
Filsattimur.wordpress.com

Filsafat

Standar

Oleh, Ms Magenda

Kita akan menemukan batas-batas kehidupan pada mana terdapat gairah diri dalam berfilsafat.. Tetapi kita juga tidak dapat mengklaim diri bahwa kita sedang berfilsafat,, Filsafat timur bukan kritik pada filsafat barat, tetapi dia akan menjadi dan terus mencari titik temu antara pemikiran-pemikiran dari arah manapun dia datang. Maka bila Nietzsche mengatakan bahwa Tuhan telah mati, dapat dijelaskan maksudnya yakni yang demikian itu adalah cara dia menolak ketidak berdayaan sebagian orang-orang yang beragama ketika mendapat serangan ilmu pengetahuan moderen. Kita akan memulai diskusi panjang tentang alur dan gaya pikir dan teknik filsafat masing-masing pada halaman ini. Demikian utk sementara.